Gemuruh PHK Massal hingga Gardening Leave, Apa yang Harus Dilakukan?

Daftar Isi: [Lihat]
PHK massal
Kekacauan ekonomi global membuat banyak perusahaan besar hingga perusahaan rintisan (startup) di berbagai penjuru belahan dunia, termasuk Indonesia melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal sejak akhir tahun 2022 lalu. Kondisi itu tentu saja membuat was-was para pekerja.

Tak hanya PHK saja, gardening leave atau kebijakan bagi karyawan yang sedang dalam proses PHK untuk tidak bekerja namun tetap mendapatkan gaji kini tengah menjadi momok menakutkan bagi para karyawan. Pasalnya, kondisi itu marak ditemukan, meski Indonesia jauh dari resesi.

Tentu saja tidak ada orang yang mau kehilangan penghasilan dan pekerjaan di masa pemulihan ekonomi pascapandemi seperti saat ini. Namun, bila kondisi itu harus dialami, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

Beberapa hal yang harus dilakukan jika Anda harus mengalami PHK ataupun gardening leave.

Hitung jumlah aset dan pengeluaran wajib

Ketika menjadi korban PHK ataupun gardening leave, mengatur keuangan untuk bertahan hidup merupakan masalah di depan mata yang harus segera dilakukan.

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghitung total aset yang dimiliki mulai dari aset riil dalam hal ini adalah bentuk fisik, dan aset keuangan yaitu tabungan, uang pesangon, reksa dana, saham, dan lainnya. Hitung pula semua cicilan dan tanggungan per bulannya.

Jumlah itu harus ditambah dengan pengeluaran sehari-hari selama sebulan. Dengan pendataan tersebut, maka Anda bisa merencanakan keuangan, mulai dari berapa besarannya maupun berapa lama estimasi waktu keuangan bisa bertahan.

Lunasi utang-utang tersebut untuk mengurangi beban pengeluaran Anda di setiap bulannya. Bila total utang itu sangat besar dan nilainya melebihi nilai aset yang dimiliki, dan Anda keberatan mencicil utang tersebut, maka Anda bisa melakukan negosiasi dengan pihak pemberi kredit untuk meminta keringanan.

Dana darurat aman

Pastikan Anda memiliki dana darurat di rekening yang bisa menanggung kebutuhan pokok Anda untuk enam bulan ke depan. Dengan adanya dana darurat ini, Anda tidak perlu pusing keleyengan lagi deh pas hal hal tidak terduga itu terjadi, karena sudah memiliki cadangan uang yang bisa selalu digunakan.

Meski angka ideal yang dianjurkan adalah enam kali pengeluaran bulanan, pengalokasian dana darurat antara mereka yang sudah menikah dan belum berbeda. Untuk mereka yang masih sendiri alias belum berumah tangga, disarankan memiliki dana darurat sekitar 4 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran.

Sementara itu, untuk Anda yang sudah menikah, memerlukan dana darurat sebesar 6 hingga 12 bulan dari pengeluaran.

Waspadai utang konsumtif

Utang konsumtif merupakan jenis utang yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi tanpa hasil yang produktif. Mayoritas utang konsumtif dipakai untuk membeli aset atau barang yang akan mengalami depresiasi atau penurunan nilai.

Meski begitu, utang satu ini tidak selalu memberikan dampak buruk bagi kita. Namun, penting untuk Anda mengurangi jumlah utang dan cicilan konsumtif yang hanya memenuhi keinginan saja, melainkan priortaskan utang dan cicilan untuk memenuhi kebutuhan.

Miliki sampingan sebagai backup apabila penghasilan utama terhenti.

Memiliki penghasilan sampingan merupakan salah satu cara cerdas untuk memastikan kondisi keuangan tetap terjaga di tengah berbagai ancaman. Penghasilan sampingan meski kemungkinan nilainya tidak sebesar penghasilan utama, namun bisa memberikan rasa aman dari ancaman seperti kehilangan pekerjaan karena PHK.

Karena itu, jangan tunda-tunda untuk mencari peluang dan mengambil kesempatan untuk memiliki penghasilan sampingan, meski nilainya dimulai dari kecil. Bahkan tidak menutup kemungkinan penghasilan sampingan ini tidak hanya bisa menjadi penyelamat dana darurat, namun bisa meningkatkan pundi-pundi tabungan.

Jaminan kesehatan tetap harus ada

Pengeluaran yang dibutuhkan saat mengalami musibah seperti sakit berat apabila tidak memiliki asuransi akan membuat Anda harus merogoh kocek yang besar. Pengeluaran yang besar dan tiba-tiba ini berpotensi sangat besar dalam mengganggu kondisi keuangan keluarga.

Pentingnya memiliki perlindungan kesehatan membuat asuransi menjadi bagian dari kebutuhan yang juga harus dipenuhi, lebih tepatnya sebagai kebutuhan manajemen risiko.

Mengingat biaya berobat yang tidak murah, dan akan terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, maka penting untuk Anda memiliki jaminan kesehatan sejak dini. Jika belum memiliki cukup dana untuk membayar preminya, milikilah setidaknya BPJS Kesehatan.

Jangan biarkan tabungan Anda terkuras atau hilang karena menjalani pengobatan. Sebab, ketersediaan tabungan merupakan hal penting yang harus dimiliki saat Anda terdampak PHK ataupun gardening leave.